agama dan ilmu sangatlah saling terkait
karena orang yang banyak ilmu nya apabila tampa di topang oleh agama semua ilmu tidak akan membawa kemaslahatan umat,sebagai contoh negara negara maju yang sangat gigih mendalami ilmu
dan tekhnologi,tetapi sering menjadi sumber pe micu terjadinya peperangan,
begitupun juga orang yang sangat sibuk dengan belajar agama ,tetepi tidak mau menggali ilmu dan pengetahuan alam disekitar kita ,maka akan mengalami kemunduran ,sedangkan untuk mencapai kebahgiaaan akhiart haruslah banyak berbut/beribadah dalam hal untuk kemajuaan umat,apa jadinya
apabila semua umat berkutik di ritualitas saja,ini adalah suatu pertanyaan gambaran yang menyedihkan
'tasyawuf arek suroboyo'
sufisme
Jumat, 23 April 2010
"HUBUNGAN ILMU DAN AGAMA"
Sabtu, 27 Maret 2010
"Islam Dan Kemajuan"
dijaman sekarang pemuka agama mencoba menahan kamajuan bagaikan menghambat air yang mengalir kelautan.mereka takut kalau manusia memeperoleh kebebasan akan terlepas dari cengkraman nya.oleh sebab itu mereke prembuat bermacam peraturan dan perundangan.yang undang undang itu mengatakan orang yang mencari kebahagiaan dunia itu sesat.
banyak bangsabangsa yang dapat belajar agama yang demikian,jatuhlah mereka lemah dan tertinds dimedan perang,tidak mau maju kedepan tetapi surut kebelakang.kepala kepala agama memang teguh pendirian melepaskan pengaruh dan cengkramannya ,sebab itu terjadilah peperangan antara agama dan kemajuan.agama mengatakan kemajuan itu kafir,kemajua mengatakan agama itu bodoh .
islam membantah dan menantang segala teori buatan kepala kepala agama.dengan bukti cukup ditunjukkan bahwa agma itu bukan musuh kemajuan bahkan agamalah penuntun kemajuan.
Alah berfirman dalam surat(Ar-A'raf:32)
Katakan Muhammad,siapa yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang dikeluarkanNya untuk hambaNya,dansiapa yang menolak rezeki yang baik baik
FirmanNya pulauntuk jadi do'a(Al-Baqarah:210)
Ya Allah berikanlah kami keselamatan di dunia dan beri pula kami keselamatan di akhirat,jauhkanlah kami dari azab neraka)
FirmanNya juga(An-Nahl:30)
Dan dikatakan kepada orang orang yang taqwa;apakah yang diturunkan oleh Tuhanmu?mereka menjawab: ialah kebaikan,yaitu untuk orang-orang yang berbuat baik seketika di dunnia dengan suatu kebaikan,dan hidup di akhirat itu adlah lebih baiklagi.di sanalah seindah-indanya tempat bagi orang yang taqwa
Karena kemajuan tidakakan tercapai dengan tiada ilmu,maka beratus-ratus ayat Al-Qur'an dan Hadist menyerukan menuntut ilmu.
Apasaja macamnya ilmu dunia dan akhirat ,ilmu agama,ilmu alam ,ilmu perbintangan,ilmu listrik,ilmu pertanian.
semuanya disindir dalam Al-Qur'an bukan di larang
Bukan orang islam disuruh menuntut istinjak,rukun bersuci,,ilmu Hadist,ilmu Fiqh,dan sebagainya
Do'a seindah indah nya didalam Al-Qur'an dalam perkara menuntut ilmu
********** tandingan facebook
Terapy kesehatan tubuh secara alamiah
banyak bangsabangsa yang dapat belajar agama yang demikian,jatuhlah mereka lemah dan tertinds dimedan perang,tidak mau maju kedepan tetapi surut kebelakang.kepala kepala agama memang teguh pendirian melepaskan pengaruh dan cengkramannya ,sebab itu terjadilah peperangan antara agama dan kemajuan.agama mengatakan kemajuan itu kafir,kemajua mengatakan agama itu bodoh .
islam membantah dan menantang segala teori buatan kepala kepala agama.dengan bukti cukup ditunjukkan bahwa agma itu bukan musuh kemajuan bahkan agamalah penuntun kemajuan.
Alah berfirman dalam surat(Ar-A'raf:32)
Katakan Muhammad,siapa yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang dikeluarkanNya untuk hambaNya,dansiapa yang menolak rezeki yang baik baik
FirmanNya pulauntuk jadi do'a(Al-Baqarah:210)
Ya Allah berikanlah kami keselamatan di dunia dan beri pula kami keselamatan di akhirat,jauhkanlah kami dari azab neraka)
FirmanNya juga(An-Nahl:30)
Dan dikatakan kepada orang orang yang taqwa;apakah yang diturunkan oleh Tuhanmu?mereka menjawab: ialah kebaikan,yaitu untuk orang-orang yang berbuat baik seketika di dunnia dengan suatu kebaikan,dan hidup di akhirat itu adlah lebih baiklagi.di sanalah seindah-indanya tempat bagi orang yang taqwa
Karena kemajuan tidakakan tercapai dengan tiada ilmu,maka beratus-ratus ayat Al-Qur'an dan Hadist menyerukan menuntut ilmu.
Apasaja macamnya ilmu dunia dan akhirat ,ilmu agama,ilmu alam ,ilmu perbintangan,ilmu listrik,ilmu pertanian.
semuanya disindir dalam Al-Qur'an bukan di larang
Bukan orang islam disuruh menuntut istinjak,rukun bersuci,,ilmu Hadist,ilmu Fiqh,dan sebagainya
Do'a seindah indah nya didalam Al-Qur'an dalam perkara menuntut ilmu
********** tandingan facebook
Terapy kesehatan tubuh secara alamiah
Rabu, 03 Februari 2010
Tasawuf"modern"
"TASAWUF" adalah( SEBUAH KEBUTUHAN SPRITUAL)baik dijaman dahulu maupun jaman sekarang
Suatu hari seorang Pengunjung “jalinsilahturahim” bertanya kepada saya Tentang Tasawuf, “apa inti dari ajaran Tasawuf??Bolehkah kita belajar Tasawuf?? dan Dia mengajak saya untuk belajar bersama tentang Tasawuf. Saya sendiri bingung harus menjawab yang mana dulu. Karena selama ini saya tidak pernah belajar khusus tentang Tasawuf dan saya sendiri kurang setuju kalau Tasawuf diartikan sebagai suatu ajaran , ilmu atau ideologi karena Menurut saya Tasawuf adalah merupakan akhir sebuah perjalanan dari intelektual kita , ketika kita terbentur dan mencapai klimaks tentang apa -apa yang kita coba pikirkan tentang ciptaan Alloh tentang Hakikat Alloh dan lain sebagainya dan intelektual serta akal kita sudah tidak bisa mencapainya lagi maka semua akan kembali kepada sang Khalik pencipta alam ini maka disitulah kita menemukan Tasawuf. Inti dari Tasawuf itu sendiri adalah membersihkan hati kita dari perilaku akhlak tercela dan tasawuf juga bertujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan. Sehingga orang-orang merasa di hadiratnya. Caranya adalah dengan kontemplasi, melepasakan diri dari jeratan kehidupan duniawi yang bersifat sementara dan selalu berubah.
SELENGKAPNYA
Suatu hari seorang Pengunjung “jalinsilahturahim” bertanya kepada saya Tentang Tasawuf, “apa inti dari ajaran Tasawuf??Bolehkah kita belajar Tasawuf?? dan Dia mengajak saya untuk belajar bersama tentang Tasawuf. Saya sendiri bingung harus menjawab yang mana dulu. Karena selama ini saya tidak pernah belajar khusus tentang Tasawuf dan saya sendiri kurang setuju kalau Tasawuf diartikan sebagai suatu ajaran , ilmu atau ideologi karena Menurut saya Tasawuf adalah merupakan akhir sebuah perjalanan dari intelektual kita , ketika kita terbentur dan mencapai klimaks tentang apa -apa yang kita coba pikirkan tentang ciptaan Alloh tentang Hakikat Alloh dan lain sebagainya dan intelektual serta akal kita sudah tidak bisa mencapainya lagi maka semua akan kembali kepada sang Khalik pencipta alam ini maka disitulah kita menemukan Tasawuf. Inti dari Tasawuf itu sendiri adalah membersihkan hati kita dari perilaku akhlak tercela dan tasawuf juga bertujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan. Sehingga orang-orang merasa di hadiratnya. Caranya adalah dengan kontemplasi, melepasakan diri dari jeratan kehidupan duniawi yang bersifat sementara dan selalu berubah.
SELENGKAPNYA
Jumat, 16 Oktober 2009
"makna tasawuf dan sufisme"
Tasyawuf adalah ilmu yang mempelajari sifat kerohanian
Jalan yang ditempuh seseorang untuk sampai ke tingkat melihat Tuhan dengan mata hati dan akhirnya bersatu dengan Tuhan demikian panjang dan penuh duri. Bertahun-tahun orang harus menempuh jalan yang sulit itu. Karena itu hanya sedikit sekali orang yang bisa sampai puncak tujuan tasawuf. Jalan itu disebut tariqah (bahasa Arab), dan dari sinilah berasal kata tarekat dalam bahasa Indonesia. Jalan itu, yang intinya adalah penyucian diri, dibagi kaum sufi ke dalam stasion-stasion yang dalam bahasa Arab disebut maqamat -tempat seorang calon sufi menunggu sambil berusaha keras untuk membersihkan diri agar dapat melanjutkan perjalanan ke stasion berikutnya. Sebagaimana telah di sebut diatas penyucian diri diusahakan melalui ibadat, terutama puasa, shalat, membaca al-Qur'an dan dzikir. Maka, seorang calon sufi banyak melaksanakan ibadat. Tujuan semua ibadat dalam Islam ialah mendekatkan diri itu, terjadilah penyucian diri calon sufi secara berangsur.
JALAN PENDEKATAN DIRI KEPADA TUHAN
Jalan yang ditempuh seseorang untuk sampai ke tingkat melihat Tuhan dengan mata hati dan akhirnya bersatu dengan Tuhan demikian panjang dan penuh duri. Bertahun-tahun orang harus menempuh jalan yang sulit itu. Karena itu hanya sedikit sekali orang yang bisa sampai puncak tujuan tasawuf. Jalan itu disebut tariqah (bahasa Arab), dan dari sinilah berasal kata tarekat dalam bahasa Indonesia. Jalan itu, yang intinya adalah penyucian diri, dibagi kaum sufi ke dalam stasion-stasion yang dalam bahasa Arab disebut maqamat -tempat seorang calon sufi menunggu sambil berusaha keras untuk membersihkan diri agar dapat melanjutkan perjalanan ke stasion berikutnya. Sebagaimana telah di sebut diatas penyucian diri diusahakan melalui ibadat, terutama puasa, shalat, membaca al-Qur'an dan dzikir. Maka, seorang calon sufi banyak melaksanakan ibadat. Tujuan semua ibadat dalam Islam ialah mendekatkan diri itu, terjadilah penyucian diri calon sufi secara berangsur.
Jelas kiranya bahwa usaha penyucian diri, langkah pertama yang harus dilakukan seseorang adalah tobat dari dosa-dosanya. Karena itu, stasion pertama dalam tasawuf adalah tobat. Pada mulanya seorang calon sufi harus tobat dari dosa-dosa besar yang dilakukannya Kalau ia telah berhasil dalam hal ini, ia akan tobat dari dosa-dosa kecil, kemudian dari perbuatan makruh dan selanjutnya dari perbuatan syubhat. Tobat yang dimaksud adalah taubah nasuha, yaitu tobat yang membuat orangnya menyesal atas dosa-dosanya yang lampau dan betul-betul tidak berbuat dosa lagi walau sekecil apapun. Jelaslah bahwa usaha ini memakan waktu panjang. Untuk memantapkan tobatnya ia pindah ke stasion kedua, yaitu zuhud. Di stasion ini ia menjauhkan diri dari dunia materi dan dunia ramai. Ia mengasingkan diri ke tempat terpencil untuk beribadat, puasa, shalat, membaca al-Qur'an dan dzikir. Puasanya yang banyak membuat hawa nafsunya lemah, dan membuat ia tahan lapar dan dahaga. Ia makan dan minum hanya untuk mempertahankan kelanjutan hidup. Ia sedikit tidur dan banyak beribadat. Pakaiannyapun sederhana. Ia menjadi orang zahid dari dunia, orang yang tidak bisa lagi digoda oleh kesenangan dunia dan kelezatan materi. Yang dicarinya ialah kebahagiaan rohani, dan itu diperolehnya dalam berpuasa, melakukan shalat, membaca al-Qur'an dan berdzikir.
Kalau kesenangan dunia dan kelezatan materi tak bisa menggodanya lagi, ia keluar dari pengasingannya masuk kembali ke dunianya semula. Ia terus banyak berpuasa, melakukan shalat, membaca al-Qur'an dan berdzikir. Ia juga akan selalu naik haji. Sampailah ia ke stasion wara'. Di stasion ini ia dijauhkan Tuhan dari perbuatan-perbuatan syubhat. Dalam literatur tasawuf disebut bahwa al-Muhasibi menolak makanan, karena di dalamnya terdapat syubhat. Bisyr al-Hafi tidak bisa mengulurkan tangan ke arah makanan yang berisi syubhat.
Dari stasion wara', ia pindah ke stasion faqr. Di stasion ini ia menjalani hidup kefakiran. Kebutuhan hidupnya hanya sedikit dan ia tidak meminta kecuali hanya untuk dapat menjalankan kewajiban-kewajiban agamanya. Bahkan ia tidak meminta sungguhpun ia tidak punya. Ia tidak meminta tapi tidak menolak pemberian Tuhan.
Setelah menjalani hidup kefakiran ia sampai ke stasion sabar. Ia sabar bukan hanya dalam menjalankan perintah-perintah Tuhan yang berat dan menjauhi larangan-larangan Tuhan yang penuh godaan, tetapi juga sabar dalam menerima percobaan-percobaan berat yang ditimpakan Tuhan kepadanya. Ia bukan hanya tidak meminta pertolongan dari Tuhan, bahkan ia tidak menunggu-nunggu datangnya pertolongan. Ia sabar menderita.
Selanjutnya ia pindah ke stasion tawakkal. Ia menyerahkan diri sebulat-bulatnya kepada kehendak Tuhan. Ia tidak memikirkan hari esok; baginya cukup apa yang ada untuk hari ini. Bahkan, sungguhpun tak ada padanya, ia selamanya merasa tenteram. Kendatipun ada padanya, ia tidak mau makan, karena ada orang yang lebih berhajat pada makanan dari padanya. Ia bersikap seperti telah mati.
Dari stasion tawakkal, ia meningkat ke stasion ridla. Dari stasion ini ia tidak menentang percobaan dari Tuhan bahkan ia menerima dengan senang hati. Ia tidak minta masuk surga dan dijauhkan dari neraka. Di dalam hatinya tidak ada perasaan benci, yang ada hanyalah perasaan senang. Ketika malapetaka turun, hatinya merasa senang dan di dalamnya bergelora rasa cinta kepada Tuhan. Di sini ia telah dekat sekali dengan Tuhan dan iapun sampai ke ambang pintu melihat Tuhan dengan hati nurani untuk selanjutnya bersatu dengan Tuhan.
Karena stasion-stasion tersebut di atas baru merupakan tempat penyucian diri bagi orang yang memasuki jalan tasawuf, ia sebenarnya belumlah menjadi sufi, tapi baru menjadi zahid atau calon sufi. Ia menjadi sufi setelah sampai ke stasion berikutnya dan memperoleh pengalaman-pengalaman tasawuf.
Jalan yang ditempuh seseorang untuk sampai ke tingkat melihat Tuhan dengan mata hati dan akhirnya bersatu dengan Tuhan demikian panjang dan penuh duri. Bertahun-tahun orang harus menempuh jalan yang sulit itu. Karena itu hanya sedikit sekali orang yang bisa sampai puncak tujuan tasawuf. Jalan itu disebut tariqah (bahasa Arab), dan dari sinilah berasal kata tarekat dalam bahasa Indonesia. Jalan itu, yang intinya adalah penyucian diri, dibagi kaum sufi ke dalam stasion-stasion yang dalam bahasa Arab disebut maqamat -tempat seorang calon sufi menunggu sambil berusaha keras untuk membersihkan diri agar dapat melanjutkan perjalanan ke stasion berikutnya. Sebagaimana telah di sebut diatas penyucian diri diusahakan melalui ibadat, terutama puasa, shalat, membaca al-Qur'an dan dzikir. Maka, seorang calon sufi banyak melaksanakan ibadat. Tujuan semua ibadat dalam Islam ialah mendekatkan diri itu, terjadilah penyucian diri calon sufi secara berangsur.
JALAN PENDEKATAN DIRI KEPADA TUHAN
Jalan yang ditempuh seseorang untuk sampai ke tingkat melihat Tuhan dengan mata hati dan akhirnya bersatu dengan Tuhan demikian panjang dan penuh duri. Bertahun-tahun orang harus menempuh jalan yang sulit itu. Karena itu hanya sedikit sekali orang yang bisa sampai puncak tujuan tasawuf. Jalan itu disebut tariqah (bahasa Arab), dan dari sinilah berasal kata tarekat dalam bahasa Indonesia. Jalan itu, yang intinya adalah penyucian diri, dibagi kaum sufi ke dalam stasion-stasion yang dalam bahasa Arab disebut maqamat -tempat seorang calon sufi menunggu sambil berusaha keras untuk membersihkan diri agar dapat melanjutkan perjalanan ke stasion berikutnya. Sebagaimana telah di sebut diatas penyucian diri diusahakan melalui ibadat, terutama puasa, shalat, membaca al-Qur'an dan dzikir. Maka, seorang calon sufi banyak melaksanakan ibadat. Tujuan semua ibadat dalam Islam ialah mendekatkan diri itu, terjadilah penyucian diri calon sufi secara berangsur.
Jelas kiranya bahwa usaha penyucian diri, langkah pertama yang harus dilakukan seseorang adalah tobat dari dosa-dosanya. Karena itu, stasion pertama dalam tasawuf adalah tobat. Pada mulanya seorang calon sufi harus tobat dari dosa-dosa besar yang dilakukannya Kalau ia telah berhasil dalam hal ini, ia akan tobat dari dosa-dosa kecil, kemudian dari perbuatan makruh dan selanjutnya dari perbuatan syubhat. Tobat yang dimaksud adalah taubah nasuha, yaitu tobat yang membuat orangnya menyesal atas dosa-dosanya yang lampau dan betul-betul tidak berbuat dosa lagi walau sekecil apapun. Jelaslah bahwa usaha ini memakan waktu panjang. Untuk memantapkan tobatnya ia pindah ke stasion kedua, yaitu zuhud. Di stasion ini ia menjauhkan diri dari dunia materi dan dunia ramai. Ia mengasingkan diri ke tempat terpencil untuk beribadat, puasa, shalat, membaca al-Qur'an dan dzikir. Puasanya yang banyak membuat hawa nafsunya lemah, dan membuat ia tahan lapar dan dahaga. Ia makan dan minum hanya untuk mempertahankan kelanjutan hidup. Ia sedikit tidur dan banyak beribadat. Pakaiannyapun sederhana. Ia menjadi orang zahid dari dunia, orang yang tidak bisa lagi digoda oleh kesenangan dunia dan kelezatan materi. Yang dicarinya ialah kebahagiaan rohani, dan itu diperolehnya dalam berpuasa, melakukan shalat, membaca al-Qur'an dan berdzikir.
Kalau kesenangan dunia dan kelezatan materi tak bisa menggodanya lagi, ia keluar dari pengasingannya masuk kembali ke dunianya semula. Ia terus banyak berpuasa, melakukan shalat, membaca al-Qur'an dan berdzikir. Ia juga akan selalu naik haji. Sampailah ia ke stasion wara'. Di stasion ini ia dijauhkan Tuhan dari perbuatan-perbuatan syubhat. Dalam literatur tasawuf disebut bahwa al-Muhasibi menolak makanan, karena di dalamnya terdapat syubhat. Bisyr al-Hafi tidak bisa mengulurkan tangan ke arah makanan yang berisi syubhat.
Dari stasion wara', ia pindah ke stasion faqr. Di stasion ini ia menjalani hidup kefakiran. Kebutuhan hidupnya hanya sedikit dan ia tidak meminta kecuali hanya untuk dapat menjalankan kewajiban-kewajiban agamanya. Bahkan ia tidak meminta sungguhpun ia tidak punya. Ia tidak meminta tapi tidak menolak pemberian Tuhan.
Setelah menjalani hidup kefakiran ia sampai ke stasion sabar. Ia sabar bukan hanya dalam menjalankan perintah-perintah Tuhan yang berat dan menjauhi larangan-larangan Tuhan yang penuh godaan, tetapi juga sabar dalam menerima percobaan-percobaan berat yang ditimpakan Tuhan kepadanya. Ia bukan hanya tidak meminta pertolongan dari Tuhan, bahkan ia tidak menunggu-nunggu datangnya pertolongan. Ia sabar menderita.
Selanjutnya ia pindah ke stasion tawakkal. Ia menyerahkan diri sebulat-bulatnya kepada kehendak Tuhan. Ia tidak memikirkan hari esok; baginya cukup apa yang ada untuk hari ini. Bahkan, sungguhpun tak ada padanya, ia selamanya merasa tenteram. Kendatipun ada padanya, ia tidak mau makan, karena ada orang yang lebih berhajat pada makanan dari padanya. Ia bersikap seperti telah mati.
Dari stasion tawakkal, ia meningkat ke stasion ridla. Dari stasion ini ia tidak menentang percobaan dari Tuhan bahkan ia menerima dengan senang hati. Ia tidak minta masuk surga dan dijauhkan dari neraka. Di dalam hatinya tidak ada perasaan benci, yang ada hanyalah perasaan senang. Ketika malapetaka turun, hatinya merasa senang dan di dalamnya bergelora rasa cinta kepada Tuhan. Di sini ia telah dekat sekali dengan Tuhan dan iapun sampai ke ambang pintu melihat Tuhan dengan hati nurani untuk selanjutnya bersatu dengan Tuhan.
Karena stasion-stasion tersebut di atas baru merupakan tempat penyucian diri bagi orang yang memasuki jalan tasawuf, ia sebenarnya belumlah menjadi sufi, tapi baru menjadi zahid atau calon sufi. Ia menjadi sufi setelah sampai ke stasion berikutnya dan memperoleh pengalaman-pengalaman tasawuf.
Langgan:
Entri (Atom)


